ZAKAT FITRAH

Standar

IMG_20160620_231412
Islam mewajibkan bagi setiap ummatnya yang masih hidup diakhir bulan ramadlan untuk sekedar mengeluarkan 1 sha’ beras, jagung, sagu dll. (makanan pokok disuatu daerah tersebut), bahkan kewajiban zakat fitrah ini tidak hanya wajib bagi dirinya akan tetapi wajib untuk membayarkan zakat keluarga yang ditanggungnya (nafkahnya) seperti istri, anak, pembantu orang tua dll untuk membayarkan zakatnya, dari sinilah muzakki (orang yang membayar zakat) itu tidak diperbolehkan memberikan zakatnya pada keluarga yang masih dalam tanggungannya, walaupun keluarga yang ada dalam tanggungan dirinya tergolong sangat fakir/ mskin, sebuah pelajaran bagi kita umat Islam khususnya untuk tidak melakukan praktek-praktek nipotisme.

Kewajiban membayar 1 sha’/ 4 mud/ 2,8 kg, Red. atau 3 kg (lebih afdal dan hati-hati) dari beras, jagung, sagu dll (makanan pokok disuatu daerah tersebut) tidak dapat digantikan oleh sesuatu yang bukan dari makananpokok walaupun lebih berat dan bagus kualitasnya, seperti contoh seseorang dengan alasan lebih praktis lalu membayar zakat fitrah dengan bentuk uang seharga 3 kg beras, misalnya 1 kg beras harganya Rp. 10.000, untuk ukuran zakat dibutuhkan 3kg beras, artinya: 3 x 10.000 = 30.000, seseorang dengan alasan diatas mengeluarkan zakatnya dengan cara membayar Rp. 30.000 atau membayar sampai Rp 50.000/ orang maka hukumnya tetap tidak boleh karena Rasulullah SAW tidak pernah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang sebagai ganti makanan pokok dimaksud.

Betapa pentingnya zakat fitrah, sifat iri-dengki dan sombong yang selama ini selalu berusaha mengemasi setiapa aktifitas kita insya Allah dengan zakatunnafs yang kita keluarakan, hati dan jiwa kita yang telah berpuasa akan menjadi bersih sebagaimana hakikat zakat fitrah itu sendiri. Selain manfaat diatas, zakat fitrah yang kita keluarkan akan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan yakni pada 8 golongan sebagaimana dijelaskan dalam surah at-taubah: 80 agar tidak ada lagi fakir miskin yang meminta-minta dihari raya.

Adapun waktu mengeluarkan zakat fitrah itu mulai tanggal satu ramadlan sampai pada saat dilaksanakannya shalat idul fitri, akan tetapi hukumnya makruh apabila sudah khatib menaiki mimbar baru mengeluarkan zakat fitrah, berikutnya zakat fitrah hukumnya menjadai wajib untuk dikeluarkan apabila mata hari diakhir ramadlan telah terbenam sampai waktu dillaksanakannya shalat subuh (malam hari raya) sedangkan yang sunnah sunnah mengeluarkan zakat fitrah apabila dikeluarkan setelah shalat subuh hingga menjelang hkatib menaiki mimbar untuk melaksanakan shalat idul fitri.
Wallahu A’lam,,,!

Iklan

MALAS MENULIS

Standar

IMG_20160426_085427
Kenapa yah akhir-akhir ini aku malas untuk menulis, padahal segudang ide sesekali muncul dan terlintas dalama benak, tapi entah kenapa otak seperti tidak mau untuk diajak berfikir meski makolah mengatakan berfikir sejenak lebih utama dari pada ibadah seribu rokaat, kenapa otak ini seperti baru habis perjalanan jauh, capek, lesuh bukan kepalang padahal aku sadar hal inilah yang dapat menyebabkan orang lebih cepat pikun, sulit menjadi orang sukses dan cepat masuk kekuburan, hahahah. Na’udzubillah,,,, (saya masih kepingin hidup seribu tahun lagi loh,,,)

Dibulan Suci Romadlan sebagian orang memilih mengurangi aktifitas rutinnya diluar Bulan Romadlan tentunya karena berbagai alasan, ada yang pingin focus pada nilai Rahmah, Berkah dan maghfiroh yang ditawarkan dibulan Romadlan, ada juga yang memilih berhenti total dari kebiasaan harian diluar bulan Romadlan dari sekian banyak aktifitas diluar Romadalan disidit menjadi 5 saja yaitu : T, I, D, U, R. hehehe (aku banget,,,,) kurang tahu anda,,? Kayaknya sih sama kayak aku juga, hehehe, Maaf, tidak begitu saya yakin tidak sama, setiap orang memiliki perangai, kesibukan dan aktifitas yang berbeda-beda, tidak dapat disamakan antara aku yang malas ini dengan anda-anda yang telah menyempatkan membaca tulisan ini, itu artinya anda adalah orang yang suka beraktifitas, mau berfikir dan kepingin sukses,,, tapi walaupun demikian aku yang aktifitasnya hanya tidur kepingin juga dong suskses seperti anda-anda semeua,,,

Akhir kata semoga kita semua bisa mengisinya hari-hari dan malamnya bulan Romadlan dengan aktifitas dan kegiatan yang lebih berkualitas dari hanya sekedar tidur, tentunya dengan cara memperbanyak melakukan yang bisa bermanfaat untuk orang lain, memperbanyak Ibadah Kepada Allah SWT dan memperbanyak istighfar supaya nanti kita diakhir Romadlan bisa meraih predikat Fitri sebgaimana anak yang baru dilahirkan dari perut ibunya, Amin,,,

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA,,,,!

Uttaran di ANTV, Tontonan Bahaya Bagi Mindset Anak

Standar

 

Kata bahaya dalam judul tidak pake tanda kutip, karena memang jelas dan bisa dipastikan untuk mendapatkan perhatian serius. Bahwa ada pendidikan moral yang keliru dan salah kaprah, bahkan bisa tertanam di mindset bernuansa negatif untuk para penggemarnya. Mungkin bagi tingkatan orangtua yang menonton, bisa melihat serta menilai dari berbagai sudut pandang sosial, tapi akan lain lagi bila untuk para ABG yg masih labil!

Berawal dari kesukaan anak perempuan saya ( fans film India), setiap pulang sekolah langsung standy by selama 2,5 jam (senin-jumat) dan 3 jam (sabtu-minggu). Bayangkan penayangan yang begitu lamanya, setiap hari tanpa ada jeda waktu yang terlewati. Sehingga saya penasaran, seperti apakah film tersebut? dan akhirnya saya turut mendampingi beberapa episode, dan kalau tidak nonton maka anak menceritakan seperti apa jalan ceritanya.

Dan atas apa yang saya saksikan, sungguh sebuah tayangan yang miris. Berikut sedikit Kesimpulannya:

1. Pada awal tayang menceritakan kisah tentang anak mungil dari kampung (icha kecil) dengan berbagai alur ceritanya. Mungkin bisa dibilang itu pas untuk ditonton anak disaat pulang sekolah. Bahkan Icha kecil mempunyai impian ingin menjadi orang besar, tapi tiba-tiba jalan cerita begitu mudah dibalikan menjadi kisah tentang Icha dewasa. lalu apa sisi negatifnya? Jika dilihat kelanjutannya, Icha hanya penuh kerumitan tentang cinta segitiganya. Lalu impiannya hanya dianggap angin lalu, yang mana dampaknya : penonton tingkat anak/ remaja yg labil, bisa saja “mengikuti” bagaimana tokoh utama yang begitu mudah melepas masa depan hanya demi keinginan semu?

2. Icha kecil merupakan gadis penurut dan pintar, tapi disaat dewasa menjadi gadis yang “ditokohkan” alim tapi keras kepala. Ibunya yang begitu baik seringkali ditentang dan dibantah, dan ayah angkatnya yang begitu bijaksana pun sering kali tak dianggap (bahkan dibohongi dari belakang dalam kisah pernikahan palsunya). terlepas dari apapun tujuan dan maksud seorang anak, tetap saja orangtua ingin yang terbaik bagi masa depannya. Selain itu, sebuah kesalahan (dosa besar) bila menentang orangtua yang membesarkan dengan susah payah, lalu hanya demi cinta keluarga dilawan! Bahkan, ibunya beberapa kali harus tunduk atas “permintaan bodoh” anaknya, jika tidak dituruti memberikan ancaman akan kabur. Dampaknya: penonton anak/remaja bisa saja mengikuti cara seperti itu, karena dianggap cara bagus untuk mewujudkan hasrat/keinginan.

3. Tokoh Tapasya ( anak dari bapak angkatnya), merencanakan pembunuhan untuk Icha dengan memanfaatkan mantan pacarnya. Bayangkan saja, demi perasaan yang berlebihan sehingga menghalakan segala cara walau harus menghilangkan nyawa saudara angkatnya? Sebuah peringatan keras atas apa yang ditayangkan film serial tersebut. Dampaknya: bisa saja anak/remaja yang menonton mempunyai tanggapan, bahwa membunuh merupakan cara terbaik menyelesaikan dendam/ cemburu/ sakit hati/ atau hal negatif lainnya.

4. Tokoh Icha yang begitu menyayangi saudarinya Tapasha (walau bertepuk sebelah tangan), begitu mudah menurut dan patuh, dijodohkan dengan pemabuk manggut-manggut saja walau ibunya menentang (tapi gagal ), lalu detik-detik akan dinikahkan dengan pria idamannya, malah mau juga digantikan oleh Tapsya padahal ibunya memohon bertekuk lutut jangan dilakukan. Kemudian yang terbaru dijodohkan dengan pecandu narkoba juga mau, padahal ibunya bersedih karena tidak setuju (ntah apa kelanjutannya ). Yang membuat bingung adalah, Icha sebagai gadis baik tapi ibu sendiri (meski seorang pembantu) tidak dihargai dan dihormati sama sekali? dampaknya: anak/remaja yang menonton bisa saja memikirkan bahwa, toh gadis baik-baik juga membenarkan untuk melawan ibu kandungnya? Bukankah dalam ajaran agama manapun, seorang ibu sangat tinggi kedudukannya!

5. Tokoh Icha kerap kali membohongi dan menutupi segala kejadian dari orangtuanya, padahal yang terkena dampaknya ialah semua keluarga. Yang kita ketahui dalam dunia realita, anak yang benar-benar baik dan alim, senantiasa mengutamakan kejujuran walau sepahit apapun, serta selalu terbuka atas segala masalah kepada orangtua. Dampaknya: anak/remaja yang menonton bisa beranggapan bahwa, bohong dan tertutup merupakan sikap yang tepat dalam menjalani kehidupan!

6. Tokoh Tapasya mencoba bunuh diri dengan berusaha memotong urat nadi, karena ada keinginan yang tidak bisa didapatkannya yaitu cinta seorang lelaki. dan tokoh Frans mencoba bunuh diri dengan meloncat dari atas rumah, alasannya pun sama karena khawatir gagal mendapatkan cinta seorang wanita. Dampaknya: Upaya bunuh diri bisa dianggap sebagai solusi jitu menekan orangtua, karena dalam film uttaran memperlihatkan “keberhasilan” dengan cara seperti demikian

7. Film serial Uttaran tidak mendapatkan label khusus 17 tahun keatas, atau mendapatkan peringatan wajib didampingi orangtua. padahal jika disimak dalam film tersebut, yang namanya label bukan untuk sekedar adegan bersifat seksual semata (sensor dada), tapi tentang prilaku kekerasan (pembunuhan, mabuk2an, narkoba) dan pendidikan moral yang keliru pun harus diperhatikan! Apalagi Uttaran berawal untuk anak-anak kemudian meloncat jadi tayangan film dewasa..

Dari apa yang saya sampaikan diatas, maka saya secara pribadi langsung menyuruh anak tidak lagi menonton film tersebut. Kemudian memberikan bimbingan untuk meluruskan apa saja yang salah selama penayangan, sehingga jangan sampai mempengaruhi pola pikirnya! Apalagi namanya anak/remaja mempunyai daya ingat kuat, dalam menyerap apapun yang dilihat serta didengarnya..

Sungguh peran penting orangtua dalam memantau apa yang dilakukan/ dikerjakan anak, haruslah jadi prioritas utama dalam pendidikan dirumah. Karena tayangan televisi serta internet sudah semakin sulit diawasi oleh pihak-pihak terkait, apalagi pihak pengelola siaran mengutamakan bisnis dan rating, tapi sering sekali mengesampingkan efek negatif dari apa yang ditampilkan.

Note: Pihak sensor yang paling terbaik untuk anak, bukanlah Menkominfo dan ataupun media. Melainkan kita sebagai orangtua, yang wajib dan ekstra ketat dalam menjaga mata dan telinga anak dari segala sesuatu yang ditontonnya..

Sumber: kompasiana.com

MINU AMBUNTEN MAMPU BERSAING DIKANCAH KABUPATEN

Standar

Hasil Lomba Paduan Suara Tingkat MI se Kabupaten Sumenep berdasarkan Surat Keputusan Panitia Pelaksanaan Lomba Paduan Suara Nomor:009/Pan.HAB 70/kemenag/2015, tentang Pemenang Lomba Paduan Suara Tingkat MI Se Kabupaten Sumenep. (surat terlampir)

Maka diperoleh hasil keputusan dari Dewan Juri Lomba Paduan Suara Tingkat MI Se Kabupaten Sumenep, yaitu;

Juara I : (020) MI. An Najah Kec. Pasongsongan dengan nilai 1.528

Juara II : (021) MIN Kolor Kec. Kota Sumenep dengan nilai 1.503

Juara III : (019) MI. Raudlatul Ihsan Kec. Bluto dengan nilai 1.475

Juara Harapan I : (013) MIN Terate Kec. Kota Sumenep dengan nilai 1.440

Juara Harapan II : (007) MI. Nahdlatul Ulama Kec. Ambunten dengan nilai 1.433

Juara Harapan III : (017) MI. At-Taufiqiyah Kec. Bluto dengan nilai 1.421

SELAMAT DATANG ANAKKU DIDUNIA FANA

Standar

IMG_20151008_170156 Tiada kata yang patut kami ungkapkan, kecualai hanya ucapan syukur Al-hamdulillah yang selalu menghiasi bibirku.

Hari itu tanggal 3 September 2015 telah terlahir seorang bayi mungil keatas permukaan bumi, tanpa ada pesta yang tersemai, tidak ada pula tiupan trompet sebagaimana datangnya tahun baru, kecuali hanya bongkahan salju yang berdesir disela-sela hatiku saat itu, seluruh anggota badan ini serasa terbang diudara, bibir ini takhenti-hentinya mereka, saking bahagianya menyaksikan buah hati tercinta yang dinanti-nantikan hampir sepuluh bulan lamanya dan saat ini sudah berada dipangkuanku.

Memang satu hari sebelumnya tepatnya pada hari minggu tanggal 2 September 2015, anak kami yang kedua ini sudah divonis tidak bisa dilahirkan secara normal oleh dokter kandungan, alibi karena anak yang berada didalam kandungan istriku ini sudah melebihi batas waktu perkiraan lahir, sehingga air ketuban saat itu sudah sangat minim, dokter menyarankan agar bayi kami segera dikeluarkan hari itu juga atau paling tidak besok pagi, terangnya. “Daaarrr,,, !“ jantungku berdetak keras, serasa mau copot. “apa dok,,! Tapi dok,,,! Bisakan kalau kita tunggu sampai hari jum’at, barangkali masih bisa lahir normal” aku meminta waktu untuk menunggunya hingga hari jum’at agar kami bisa menyiapkan mental dulu dan bisa berdiskusi bersama keluarga dirumah, namun lagi-lagi dokter menjawabannya “jangan,,,!” Karena itu bisa membahayakan terhadap sibayi dan Ibunya, imbuhnya. Dengan rasa berat hati kami terpaksa mengiyakan, walaupun perasaan ini masih berkecamuk.

Sepulang USG dari Klinik jarum jam sudah menunjukkan jam 18.30 WIB itu artinya kurang dari 30 menit lagi waktu shalat magrib akan habis, aku segera mencari Masjid yang ada ditepi jalan untuk melaksanakan Ibadah Shalat Magrib, dalam Shalat aku bersama istri bermunajad meminta agar dalam kurun waktu kurang dari 12 jam kedepan bisa ada keajaiban datang pada kami yakni anak kami yang ke-2 ini bisa dilahirkan secara normal.

Malam itu serasa bergulir sangat singkat, tidurku mungkin hanya sekitar 30-40 menit, mata ini hanya bisa dipejamkan sementara angan dan fikiranku melayang kesana-kemari, membayangkan bagaimana,,,, bagaimana,,,, dan apa yang akan terjadi besiok pagi,,,.

Esok harinya, pagi-pagi buta kami bergagas menemui Ibu Mertua untuk meminta restunya, karena keselamatan kita ada pada restu Beliau, tapi apa yang terjadi pendapat Orang Tua kami justru berbeda dengan pendapat sidokter, mertua kami menolak mentah-mentah saran dokter, kami coba menjelaskan panjang lebar sebagaimana penjelasan dokter kemarin, tapi beliau tetap bersih kukuh pada pendiriannya, yakni menyuruh kami untuk tetap menunggu “kita tunggu sampai sibayi mau keluar sendiri, kita tawakkal saja pada Allah SWT, dulu pada zamannya saya, banyak yang melahirkan sampai usia kandungannya 12 bulan, kandungan kamu kan baru lewat 1 pekan dari perkiraan dokter” imbuhnya.

Sesampainya di Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget, Istriku langsung segera ditangani oleeh tim dokter, satu orang sebagai perwakilan dari Keluarga diminta untuk menandatangani persetujuan untuk dilakukan oprasi pada kandungan Istri kami, aku yang dulunya pasrah tapi kok tiba-tiba jadi raguya,,,! Apalagi pas dijelaskan konsekwensi dari operasi yang diantaranya mati, cacat permanen dll. Tambah berkecamuk fikiranku, antara digagalkan dan pasrah, tapi kulihat wajah istriku kelihatan sudah pas banget, dengan berat hati aku menanandatangani pernyataan/ persetujuan operasi tersebut. Lalu petugas Segera meminta kami menyediakan selimut bayi, tidak begitu lama/ kurang dari 15 menit berselang setelah saya menyodorkan paralatan bayi, dari ruang tunggu kami melongok keluar ruangan ternyata seorang suster menggendong seorang bayi mungil dari ruang persalinan, bayi itu Nampak berselimut dengan selimut yang sama persis seperti selimut yang baru saja kami beli dari kantin rumah sakit, tanpa ragu langsung kami kejar suster tersebut, sambil lalu berjalan kutanyakan, apakah bayi itu bayi yang dilahirkan ibu Kurratul Aini ? suster tersebut mengiyakan. Mendengar jawaban suster demikian, langsung saya ambil dari pelukannya dan saat itu aku yang menggendongnya bayi mungil perempuan tersebut, ku cium lekat, ku adzani dari telinga kanan dan ikoti dari telinganya yang kiri, tak lupa ku juga bacakan surat Al-qadar 100x agar diberi keselamatan oleh Allah SWT, saat aku melakukan ritual bayi itu menatapku datar, seperti sudah lama kenal dengan bapaknya, hihi,,, tak mampu rasanya kata-kata mengisahkan saking sayangnya, saking bahagianya, tuhan telah menganugrahi kami kesempurnaan, semua sesuai rencana, semua sesuai keinginan, bayi mugil itu memang yang selalu menghiasi setiap doa dan sujudku, bayi perempuan sempurna yang bisa berbakti pada kedua orang tua, berguna bagi Agama, Bangsa dan Negara, Amini,,,,!
IMG_20150903_132219ACAB612-2015-09-19-16-24-23

NIKAHI AKU MESKI YANG KEDUA

Standar

nikahi%2Baku%2Bmeski%2Byang%2Bke%2B2Sebuah akun bernama Jelita Cinta mengajukan pertemanan. Aku langsung klik kotak biru konfirmasi, seperti biasanya.

Ternyata dia juga anggota Komunitas Bisa Menulis. Setiap kali posting karya, kehadirannya sebagai kawan baru agak mengejutkanku. Dia sangat akrab dan ramah. Selain menyumbang jempol, dia juga selalu memberikan pujian bahkan kadang mengajukan pertanyaan sekitar isi naskah.

Aku memang bukan orang yang bisa ramah di sosial media. Jarang kubalas komentar kawan satu persatu. Sikapku ini ternyata tak menyurutkan Jelita Cinta untuk terus berkomunikasi melalui inbox. Tema pembicaraan tak terlalu jauh dari hal penulisan. Tak mengapalah sekedar berbagi ilmu, toh itu merupakan kebaikan. Begitu pikirku.

Entah apakah dia selalu mengawasi lampu indikator online,setiap kali aku masuk akun fesbuk tak lama dia pasti datang dan memberi salam. Bahkan seakan sudah hafal jam berapa aku biasa online dan offline.
Pembicaraan kamisemakin lama mulai keluar dari tema penulisan. Tetapi tentang kehidupan masing-masing, aktifitas sehari-hari, hingga hobi dan kesukaan.Komunikasi terjadi biasanya saat jam kerja. Pada saat aku perjalanan dinas ke desa-desa banyak waktu luang di mobil. Di situlah aku berselancar di dunia maya, termasuk berkomunikasi dengan Jelita Cinta. Jika sudah sampai di rumah aku jarang membuka gadget untuk bersosial media,demi menjaga komunikasi keluarga.

Aku pun mulai penasaran dengan profilnya. Kulihat hanya ada tiga foto profil. Ketiganya berwajah sama, berarti ini asli bukan foto unggahan pikirku. Kulihat dari gaya foto yang selalu tersenyum nampak dia adalah seorang yang periang dan ceria. Wajahnya bersih dan matanya sejuk menandakan kedamaian hati. Apalagi ditambah dengan balutan hijabnya yang anggun sungguh mempesona. Kekaguman sewajarnya seorang lelaki, tak kurang tak lebih.

Waktu terus berjalan. Hati ini mulai ada yang tak beres. Kadang aku merasa rindu jika dia tak segera menyapa seperti biasanya.

Ada rasa cemburu saat dia berkelana di berbagai postingan, berakrab dan menyanjung karya mereka. Tentu mereka yang pria. Sensasi yang sudah lama mati kini lahir kembali.

Apakah aku jatuh hati kepadanya? Ah tidak, sungguh gila.

Memang dunia maya telah banyak membuat orang jadi gila, walau sebenarnya bukan salahnya.

Suatu sore sepulang dari kunjungan ke beberapa pengrajin, aku menulis sebuah puisi di mobil. Tiba-tiba masuk sebuah pesan.

“Om … baru nulis ya?”
“Iya, kok tahu.”
“Tahu dong, kan aku kesetrum.”(Aduh, gini ini yang buat aku puyeng).
“Lebay.”
“Biarin, dah makan, Om?”
“Udahlah … pake soto.”
“Wuihh enaknya … Om boleh nanya?”
“Boleh.”
“Bagaimana pendapat Om tentang poligami?”
“Ya begitu … kagak perlu membahas poligami, kasihan para ibu-ibu kalau dibahas terus. Diamalkan saja, wkwkwkwkkk.”
“Gubraakkk … wah Om mau poligami ya?”
“Kok nanya gitu?”
“Ga papa … hmmm aku mau kok jadi madu.”
“Aittt … bercanda jangan kelewatan.”
“Gkgkgk, paling Om yang ga mau sama aku. Kasihan deh guee ….”
Nada panggilan teleponku berbunyi, kulihat tulisan BOS di layar.”
Cinta, Om off dulu ya, bos manggil neh.”
“Ok Om, ati-ati ya.”

Lima jam kemudian. Aku minum kopi bersama istri di depan kolam ikan. Sedangkan anak-anak sibuk menjadwal pelajaran untuk esok. Kami berdiskusi tentang banyak hal,tiba-tiba istriku mengalihkan pembicaraan.

“Ayah, mau nggak punya istri lagi?”
“Ah, kenapa Mimi bertanya seperti itu?”
“Ya, sapa tau, kan enak punya istri dua.”
“Ngelantur deh.”
“Nggak, betul ini ada akhwat shalihah yang siap.”
“Apaan sih, Mimi.”
“Iya betul, aku pun ridho dan ikhlas kok.”

Aku diam tak menjawab.

“Namanya Jelita Cinta … hihihihihihi.”

GUBRAAAKKKK!!!!! Jantungku hampir berhenti berdetak. Lebih mengejutkan dari petir di siang bolong. Akalku berputar cepat mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang tiba-tiba menyembul di lautan pikiranku. Akhirnya kutemukan sebuah kesimpulan.

“Jadi?”
“Apa Yah?”
“Jelita Cinta itu ….”
“Hihihihi … iya aku,” jawab istriku.

Lengkap sudah rasa bersalahku. Rasa malu dan penyesalantak menentu bercampur jadi satu. Andai saja aku bisa memutar kembali putaran waktu, akan kuganti kisah khilaf ini dengan cerita yang lebih bermutu.

Copas boleh asal menyertakan Sumber berikut: http://akhwatmuslimahindonesia.blogspot.com/